Di tengah derasnya arus ketimpangan sosial, pendidikan masih menjadi eskalator sosial paling efektif untuk keluar dari kemiskinan. Namun, bagi jutaan anak yatim, dhuafa, dan mualaf di Indonesia, impian itu seringkali terhenti di pintu kesempatan. Pada 2023, terdapat sekitar 4 juta anak yatim dan lebih dari 3,5 juta lulusan SMA yang tidak melanjutkan kuliah karena kendala ekonomi dan mahalnya biaya pendidikan.
Di sinilah Youth Ekselensia Scholarship (YES) hadir, sebagai jembatan yang tidak hanya mengantarkan mereka ke gerbang perguruan tinggi, tetapi juga membangun jiwa-jiwa yang berdaya dan memerdekakan.
YES bukan hanya beasiswa. Ia adalah gerakan pendidikan transformatif yang menggeser paradigma dari charity menuju capacity. Setiap awardee tidak hanya menerima bantuan finansial, tetapi juga pendampingan karakter, spiritualitas, dan kepemimpinan sosial selama satu tahun penuh.
Kami percaya, dari rahim kesederhanaan dan keterbatasan, akan lahir pemimpin masa depan yang paling memahami arti keadilan sosial, kesetaraan dan keberpihakan.
Youth Ekselensia Scholarship (YES) adalah program beasiswa terpadu yang menyasar siswa kelas 3 SMA dari keluarga yatim, dhuafa, dan mualaf. Program ini bertujuan melahirkan pelajar berakhlak mulia dengan hafalan qur’an juz 30 & 24 hadits pilihan, berjiwa pemimpin, dan siap menembus perguruan tinggi negeri unggulan.
Melalui pembinaan karakter, mentoring sosial, dan pendampingan akademik intensif, YES membantu mereka menyiapkan masa depan dengan pijakan yang kuat, baik dalam keilmuan maupun nilai. Pendekatan YES dibangun di atas tiga fondasi utama, yaitu:
Ketiganya terintegrasi dalam rangkaian aktivitas rutin dan proyek-proyek inspiratif yang membentuk keutuhan pribadi para awardee. Melalui ikhtiar ini, diharapkan para awardee dapat meraih cita-cita dan masa depan yang gemilang. Program diselenggarakan dengan pengembangan kepribadian ‘excellent leader’ awardee oleh mentor program di wilayah sasaran.
Setiap pekan, awardee mengikuti pembinaan integratif meliputi Campus Preparation dan Qur’anic Mentorship. Mereka belajar strategi lolos PTN sekaligus memperdalam bacaan dan hafalan Al-Qur’an serta hadits. Melalui pembelajaran, pembiasaan, dan penugasan, YES menanamkan disiplin spiritual dan kesadaran diri.
Setiap bulan, awardee mengikuti Book Sharing dan Talent Hub Class. Kegiatan ini menumbuhkan budaya literasi dan eksplorasi bakat dalam bidang menulis, public speaking, desain grafis, dan fotografi. Dari ruang-ruang ini lahir karya dan kepercayaan diri baru, bahwa setiap bakat bisa menjadi jalan kontribusi.
YES menumbuhkan jiwa pemimpin melalui berbagai pengalaman bermakna, antara lain:
Setiap kegiatan pembinaan tidak dirancang sebagai agenda rutinan program, melainkan ritual pembentukan diri menuju kemandirian dan kepemimpinan sosial.
Selama 2025, YES telah menjangkau 175 Awardee (batch 3 & 4) di 14 wilayah Indonesia, melalui kolaborasi Dompet Dhuafa Cabang dan mitra korporasi seperti PT Matahari Department Store.
Program juga menunjukkan peningkatan signifikan dalam:
Dari hasil monitoring mentor, mayoritas awardee menunjukkan perubahan pola pikir dari penerima bantuan menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah dan masyarakatnya.
| NO | NAMA | ANGKATAN | WILAYAH | PRESTASI | NAMA LOMBA | TINGKAT |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | MAIDATUL LUKYA AGNI ASIVA | 4 | Surabaya | Juara Harapan 2 Lomba MC Tingkat Provinsi Jawa Timur | Lomba MC | Provinsi |
| 2 | MAIDATUL LUKYA AGNI ASIVA | 4 | Surabaya | Juara 3 Lomba MC Tingkat SMA se- Indonesia | Lomba MC | Nasional |
| 3 | Salfa Nayla Rahmah | 4 | Palembang | 2nd Best Speaker | National School Debating Championship | Kabupaten |
| 4 | Salfa Nayla Rahmah | 4 | Palembang | Tim terbaik ke 2 dan Pembicara terbaik | GELORAA2025 | Provinsi |
| 5 | SRI RESQI NURVARANI | 4 | Sinjai | JUARA 2 BACA PUISI | FLS3N | Kabupaten |
| 6 | MUHAMMAD RIZKY ANUGERAH WIBAWA SAYOGO | 4 | Surabaya | Juara 2 | Arboyo Uvoice | Kabupaten |
| 7 | Adzani Kamilah Putri | 4 | Pekanbaru | Finalis pada lomba Gebyar Nasional Essay Siswa dan Mahasiswa (GENESIS) yang diadakan oleh Universitas Mataram | Lomba Menulis Essay | Nasional |
| 8 | Muhamad Ega Arya Rizky | 4 | Surabaya | Medali emas | Kejuaraan Sains Olimpiade & Bahasa | Nasional |
| 9 | Alva Ihsan Ramadhan | 4 | Yogyakarta | Juara 1 | Investment Competition | Nasional |
| 10 | ALVITA SYAHADA | 4 | Medan | Juara 4 Kontingen Terbaik | LIGA PMR SEASON 3 TINGKAT WIRA | Kabupaten |
| 11 | Salfa Nayla Rahmah | 4 | Palembang | Juara 3 Pembicara Terbaik | NSDC 2025 | Provinsi |
| 12 | Muhammad Emir Panca Putrawan | 4 | Bogor | Juara 2 Seni Silat Berpasangan | PORISMAS | Provinsi |
| 13 | SRI RESQI NURVARANI | 4 | Sinjai | THE BEST FAVORITE 1 DUTA GENRE KAB.SINJAI | APRESIASI DUTA GENRE KAB.SINJAI 2025 | Kabupaten |
| 14 | Muhammad Farhan Nur Syahbani | 4 | Sinjai | Juara 1 Putra Duta GENRE Kabupaten Sinjai 2025 | Apresiasi Duta GENRE Kabupaten Sinjai 2025 | Kabupaten |
Di sebuah gang kecil di sudut kota Medan, tinggal seorang gadis muda bernama Siti Zulaikha. Ia adalah siswi kelas 12 di SMA Negeri 11 Medan. Ia adalah sosok periang, sopan, dan penuh semangat belajar. Teman-temannya mengenalnya sebagai gadis yang mencintai seni. Setiap kali tangan mungilnya memegang kuas atau pensil warna, dunia seolah menjadi tempat yang lebih indah. Ia gemar menari, melukis, menggambar, dan membuat kerajinan tangan dari bahan sederhana.
Selain berbakat di bidang seni, Zulaikha juga aktif berorganisasi. Ia bergabung dalam Pramuka, OSIS, dan beberapa kali menjadi panitia acara keagamaan di sekolah. Di balik kesibukannya, ia menyimpan satu tekad kuat: menjadi seseorang yang bisa membuat ibunya tersenyum tanpa beban.
Zulaikha adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya sudah bekerja sebagai buruh di sebuah toko milik warga Tionghoa, sementara adiknya masih duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah. Sejak ayahnya meninggal dunia tiga tahun lalu karena penyakit stroke, ibunya menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga.
Sang ibu, seorang penjahit yang juga bekerja sebagai ojek antar-jemput anak sekolah, menjalani hari-harinya dengan kesabaran yang tak biasa. Ia menambal hidup dengan jarum dan benang, menjemput rezeki dari rumah ke rumah, dan tetap tersenyum meski tubuhnya letih.
Zulaikha tumbuh menyaksikan perjuangan itu setiap hari. Ia sering melihat ibunya menjahit hingga larut malam, dengan mata yang mulai redup tapi hati yang tak pernah padam. Dalam diam, Zulaikha berjanji bahwa suatu hari nanti, ia akan membantu meringankan beban itu. Ia ingin membalas setiap tetes keringat ibunya dengan keberhasilan.
Suatu hari di sekolah, Zulaikha mendengar tentang Youth Ekselensia Scholarship (YES) dari kakak kelasnya yang sudah menjadi Awardee. Beasiswa itu terdengar seperti jawaban atas semua harapannya. Tak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga pembinaan, pendampingan, dan bimbingan menuju perguruan tinggi.
Beberapa waktu kemudian, tim YES Medan datang ke sekolahnya untuk mengadakan kegiatan YES Day Out dan sosialisasi program. Saat itu, Zulaikha duduk di barisan depan, memperhatikan setiap kata dengan mata yang berbinar. Di dalam hatinya ia berbisik,
“Mungkin ini jalan yang Allah siapkan untukku.”
Tanpa ragu, ia memutuskan untuk mendaftar. Bersama ibunya, ia menyiapkan semua berkas, termasuk surat keterangan tidak mampu yang harus diurus ke kantor desa. Meski prosesnya tidak mudah, ibunya selalu menemani, seolah berkata lewat tatapan, “Nak, Ibu percaya kamu bisa.”
Dan benar, Zulaikha lulus seleksi berkas. Itu menjadi langkah pertama dalam perjalanannya bersama YES.
Tahap berikutnya adalah tes tertulis yang diadakan di kantor Dompet Dhuafa Waspada, pusat kota Medan. Namun, jaraknya cukup jauh dari rumah. Hari itu, Zulaikha sempat ragu—bukan karena ia takut gagal, tapi karena ia tidak punya uang untuk ongkos.
Ibunya memeriksa dompet, lalu menatap Zulaikha dengan senyum yang menahan haru.
“Ibu cuma punya dua puluh lima ribu, Nak. Ambil ini, pakai sebaik-baiknya. Semoga Allah bantu.”
Dengan uang itulah Zulaikha berangkat. Ia naik bus listrik dari Tembung menuju Lapangan Merdeka, lalu melanjutkan dengan gocar bersama temannya, Tiara. Pulangnya, ia naik kereta api agar uangnya cukup hingga rumah.
Di tengah perjalanan, di antara suara mesin dan riuh kota, Zulaikha berdoa lirih,
“Ya Allah, semoga langkah ini menjadi jalan untuk meringankan beban Ibu.”
Dan benar, doa itu didengar. Beberapa hari kemudian, hasil seleksi tertulis diumumkan—namanya tercantum sebagai peserta yang lolos. Ia menangis bahagia dan bersujud syukur.
Seleksi berikutnya, wawancara melalui Zoom, juga berjalan lancar. Ia menjawab pertanyaan dengan jujur dan tenang, merasa seolah Allah sendiri menuntun lidahnya. Ia kembali lolos.
Tinggal satu tahap lagi: home visit. Petugas datang ke rumah, berbincang dengan ibunya, dan menuliskan berbagai catatan. Semuanya berjalan baik. Zulaikha yakin ini akan berakhir manis.
Namun kenyataan berkata lain. Saat pengumuman akhir tiba, namanya tidak tercantum dalam daftar Awardee.
Rasanya dunia berhenti sejenak. Ia menatap layar ponselnya lama, jantungnya berdegup cepat. Ia lalu berjalan ke kamar ibunya dengan mata basah.
“Bu… Zulaikha nggak lulus.”
Ibunya terdiam sesaat, lalu tersenyum lembut sambil mengusap rambutnya.
“Tidak apa-apa, Nak. Yang penting sudah berusaha. Berarti ini belum rezekimu.”
Kata-kata itu sederhana, tapi menenangkan. Malam itu, Zulaikha berdoa dalam tangis,
“Ya Allah, jika ini bukan rezekiku, luaskanlah rasa ikhlasku. Tapi jika ini memang untukku, tunjukkanlah jalan-Mu.”
Sebulan kemudian, doa itu dijawab dengan cara yang tak terduga.
Sore itu, sebuah pesan masuk di ponselnya. Dari Kak Intan, panitia YES Medan.
“Assalamualaikum, Siti Zulaikha. Ada Awardee yang mengundurkan diri. Kami ingin menawarkan kesempatan kepada adik. Apakah adik bersedia?”
Air matanya langsung mengalir. Ia berlari menemui ibunya dan menunjukkan pesan itu.
“Terima, Nak!” seru ibunya dengan wajah berbinar.
Dengan tangan gemetar, Zulaikha mengetik balasan:
“Sangat bersedia, Kak.”
Dan dari sanalah semuanya dimulai. Dari uang 25 ribu rupiah, lahirlah sebuah keajaiban yang mengubah hidup Zulaikha selamanya.
Sejak hari pertama pembinaan, Zulaikha merasakan sesuatu yang berbeda. Di YES, ia tidak hanya diajarkan tentang akademik, tetapi juga tentang hidup. Setiap pertemuan membawa ilmu baru dan semangat yang hangat.
Namun, momen yang paling tak terlupakan baginya adalah saat Outing Class Angkatan 4. Kegiatan itu diadakan di rumah salah satu peserta bernama Fauzan. Mereka bermain, berbagi cerita, dan menutup hari dengan kegiatan bakar-bakar.
Tawa riuh, canda, dan keakraban hari itu membuat Zulaikha merasa bahwa ia telah menemukan keluarga baru.
“YES itu rumah keduaku,” katanya suatu kali sambil tersenyum.
Sejak bergabung di YES, banyak hal berubah dalam diri Zulaikha. Ia belajar membuat perencanaan hidup yang lebih jelas. Dulu, ia hanya punya cita-cita tanpa arah. Kini, ia tahu langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai PTN impiannya. Melalui pembinaan individu, mentor YES membantu Zulaikha mengenali potensi dirinya, memilih jurusan yang sesuai, dan menyusun strategi belajar.
Perubahan juga terasa dalam hal spiritual. Dulu, shalat tahajud hampir tak pernah ia lakukan. Namun sejak bergabung di YES, ia mulai berusaha bangun malam—walau hanya seminggu sekali—untuk berbicara kepada Allah. Ia belajar bahwa doa di sepertiga malam adalah tempat paling jujur untuk memohon.
Ia juga memperbaiki shalat wajibnya, yang dulu sering terlewat. Selain itu, semangat hafalannya yang sempat hilang kini kembali tumbuh. Saat di madrasah, ia sempat menghafal juz 30. Namun sejak masuk SMA, hafalan itu terlupakan. Melalui pembinaan YES, ia kembali muraja’ah dan menyadari betapa berharga nikmat mengingat ayat-ayat Allah itu.
Kini, Zulaikha menatap masa depan dengan lebih yakin. Ia berharap YES terus mendampinginya hingga bisa diterima di perguruan tinggi negeri yang ia impikan. Ia juga ingin mengasah keterampilannya melalui Talent Hub Class dan Social Project agar kelak bisa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi banyak orang.
Ia tahu perjalanan ini belum selesai. Tapi ia percaya bahwa setiap langkahnya kini berada di jalur yang tepat. Ia ingin menjaga semangat, ilmu, dan nilai-nilai yang telah ia dapatkan di YES—terutama dalam hal keikhlasan dan keteguhan ibadah.
Di akhir setiap pembinaan, saat melihat logo YES di layar atau spanduk, Zulaikha sering tersenyum sendiri. Ia tahu, di balik segala perjuangan dan air mata, ada tangan Allah yang menuntunnya sampai di titik ini.
“Rezeki tidak akan tertukar,” katanya suatu kali dengan mata berkaca-kaca.
“Yang penting kita tetap berusaha dan percaya bahwa Allah punya waktu terbaik untuk segalanya.”
Dan benar, dari uang Rp25.000, dari doa seorang ibu, dan dari keyakinan yang tak pernah padam, tumbuhlah kisah tentang keajaiban, harapan, dan perubahan—kisah milik seorang gadis bernama Siti Zulaikha, Awardee Youth Ekselensia Scholarship Angkatan 4, yang kini menapaki jalannya menuju masa depan dengan cahaya di mata dan syukur di dada.
Total dana yang tersalurkan pada program YES Angkatan 3 (Januari–Juni 2025) mencapai Rp 248.851.194 dari sumber reguler, dan Rp 199.953.234 dari kemitraan DD cabang. Dana ini dialokasikan untuk pembinaan, uang saku, kegiatan kepemimpinan, serta honor mentor di delapan wilayah pelaksanaan.
Selain itu, dukungan kemitraan dengan PT Matahari Department Store menjadi tonggak penting dalam ekspansi YES Angkatan 4, yang kini membina 85 siswa di delapan wilayah baru.
Dana Reguler Anggaran YES Angkatan 3 (Januari- Juni)
Dana Kemitraan DD Cabang Anggaran YES Angkatan 3 (Januari- Juni)
Anggaran YES Matahari – YES Angkatan 4
Young Leadership Festival: Panggung Inspirasi
Young Leadership Festival (YLF) merupakan ajang kompetisi, apresiasi, dan perayaan prestasi para awardee YES. Kegiatan ini menjadi puncak dari proses pembinaan selama satu tahun, di mana awardee menunjukkan kemampuan akademik, spiritual, dan kepemimpinan melalui berbagai lomba tematik.
YLF tidak hanya menjadi ajang adu kemampuan, tetapi juga ruang berbagi inspirasi, karya, dan semangat untuk terus berkontribusi bagi bangsa. Ada beberapa lomba yang harus diikuti awardee yaitu Tahfiz Quran dan Hadis, Public Speaking,Life Plan & Career Plan, Karya Kreatif, dan Cerdas Cermat.
YES Day Out: Belajar Dari Masyarakat
Melalui Social Project, Awardee turun langsung ke masyarakat mengajar anak-anak, membersihkan lingkungan, hingga kampanye kesehatan. Mereka belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang posisi, tetapi tentang kebermanfaatan.
Ekselensia Leadership Camp: Memulai dengan Nilai
Ekselensia Leadership Camp merupakan orientasi program, yang bertujuan untuk mengenal DD dan value-nya, membangun kesamaan persepsi berkaitan dengan program, mengobarkan semangat baru bagi para awardee. Juga untuk memberikan pembekalan awal berkaitan dengan kompetensi atau keterampilan tertentu yang dibutuhkan dalam mengikuti program.
Best Moment
Vision Reinforcement: Meneguhkan Visi & Peran
Vision Reinforcement merupakan kegiatan peneguhan visi dan pelepasan awardee yang telah menyelesaikan masa pembinaan. Momen ini menjadi refleksi akhir perjalanan mereka bersama YES. Menandai peralihan dari awardee menjadi alumni berdaya dan siap memberi kontribusi bagi masyarakat. Kegiatan ini bukan hanya seremoni, tetapi juga momentum penguatan komitmen untuk melanjutkan peran kepemimpinan di dunia nyata.
Pada 2023, sebanyak 32.545 orang menjadi penerima manfaaat Leadership Project BAKTI NUSA angkatan 12. Total penerima manfaat leadership project berbasis daring sebanyak 47.151 dengan total konten media sosial sebanyak 2.723.
Guna memasifkan pesan dan dampak leadership project bagi masyarakat luas, para penerima manfaat BAKTI NUSA 12 berkolaborasi dengan 263 mitra strategis di seluruh wilayah program.
Total anggaran yang tersalurkan tahun 2024 sebesar Rp779.285.286. Dengan total penerima manfaat langsung sebanyak 164 siswa (YES Angkatan 2 dan 3) dan penerima manfaat tidak langsung mencapai 800 pelajar (penerima manfaat dari kegiatan YES Day Out).