SEKOLAH LITERASI INDONESIA

Mematik Gerakan Literasi, Menguatkan Fondasi Bangsa

Sekolah Literasi Indonesia (SLI) adalah program yang berfokus pada pengembangan budaya literasi diseluruh ekosistem pendidikan yang meliputi pendidikan formal, informal, dan non formal. SLI hadir sebagai ikhtiar dalam membangun dan meningkatkan kualitas manusia melalui literasi.

Visi

Menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi di sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia, cerdas, dan berkualitas.

Misi

  1. Meningkatkan minat baca warga sekolah, keluarga, dan masyarakat.
  2. Meningkatkan kompetensi literasi guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat.
  3. Membentuk karakter positif masyarakat melalui pembiasaan literasi.
  4. Membangun gerakan literasi melalui pembentukan komunitas literasi untuk guru, orang tua siswa, dan masyarakat.

Program SLI juga mengoptimalkan perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar, sehingga diharapkan mampu meningkatkan budaya literasi siswa. Selain itu, Program pemberdayaan masyarakat juga sangat dibutuhkan guna menunjang kebutuhan literasi di masyarakat melalui optimasi peran TBM (Taman Bacaan Masyarakat) yang berada di wilayah program. 

Iktiar Mengembangkan Budaya Multiliterasi

Kemampuan literasi merupakan kompetensi penting yang harus dimiliki oleh generasi penerus untuk mendorong kemajuan bangsa. Oleh karena itu, seluruh lapisan masyarakat perlu berperan aktif dalam menanamkan dan mengembangkan budaya literasi. Di Indonesia, gerakan literasi telah berkembang cukup baik dengan adanya Taman Baca Masyarakat (TBM), kebijakan Gerakan Literasi Nasional (GLN), dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Meski begitu, implementasinya masih menyisakan beberapa tantangan. Inisiatif ini membuka peluang untuk memperluas pengembangan literasi ke tahap berikutnya, di mana kebiasaan membaca dan menulis dapat dikaitkan secara mendalam dengan berbagai disiplin ilmu lain (multi-literasi).

Keberadaan ruang interaksi pembelajaran dan pembiasaan literasi harus terus diperkuat melalui pendekatan yang kolaboratif. Tidak hanya menyediakan akses bahan bacaan, tetapi juga mendorong pemanfaatannya secara berkualitas. Untuk meningkatkan kesadaran literasi, diperlukan pendekatan inovatif, keterlibatan pemangku kepentingan yang kompeten, serta kolaborasi dan komitmen bersama.

SLI mengadaptasi model multiliterasi dari Prof. Fuad Hasan yaitu fokus pada tiga pendekatan, baik pembiasaan, pembelajaran dan peneladanan.

 

SLI mendorong kolaborasi tiga ekosistem melalui program literasi terpadu (PLT) dengan mempertimbangkan karakteristik kebutuhan masyarakat agar dapat diimplementasikan secara masif dan konsisten. Salah satu tujuan utama, sekolah sasaran SLI berhasil menyusun rencana strategis dalam pengembangan budaya literasi yang mencakup tiga ekosistem pendidikan.  

Pengembangan budaya literasi dilaksanakan di tiga ruang lingkup pendidikan, yaitu; Pendidikan Formal (Sekolah); Pendidikan Informal (Keluarga) dan Pendidikan Nonformal (Masyarakat). Integrasi dari tiga ruang lingkup inilah yang menjadi ciri khas dari program Sekolah Literasi Indonesia.

Aktivitas Program

Pemberdayaan Penggerak Komunitas Literasi di Masyarakat

Komponen penting dalam mencapai tujuan hadirnya budaya literasi di masyarakat melalui upaya memberdayakan penggiat komunitas literasi masyarakat yang berperan mengawal proses tumbuhnya budaya literasi di lingkungan masyarakat. Para penggiat literasi di lingkungan masyarakat menjadi fasilitator implementasi proses program, dimana mereka dibekali dengan pembinaan secara intensif dan terstruktur pada pengembangan karakter, pengetahuan, dan keterampilan dalam mengembankan literasi berbasis kawasan. Pendekatan multiliterasi dan ekosistem pendidikan memiliki ruang lingkup yang multi stakeholder, sehingga penggerak literasi yang ditumbuhkan berdasarkan lingkungan dan fungsinya. Aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian penting bagi SLI, dimana diperlukan ruang interaksi bagi para penggiat literasi dan kelompok masyarakat lain untuk menjaga pembiasaan maupun budaya literasi di lingkungan sosial mereka.


  • Program PELITA SLI Angkatan 5
    PELITA SLI (Penggiat Literasi Indonesia) merupakan program pengembangan literasi dengan fokus pada pemberdayaan aktor lokal. PELITA SLI dilatih dan dibina untuk menjadi penggerak yang aktif mengembangkan budaya literasi di tiga ranah pendidikan yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat. Tujuan utama program ini adalah menghasilkan ekosistem pendidikan literasi yang mandiri, di mana para masyarakat dapat secara aktif berkontribusi dalam meningkatkan tingkat literasi di wilayahnya. Adapun ranah intervensi program yang dilakukan yaitu:

 

  • Pengembangan Literasi Masyarakat
    • Menyelenggarakan pelatihan intensif kepada PELITA SLI terkait pengembangan literasi berbasis kawasan.
    • Memberdayakan PELITA SLI sebagai fasilitator penggerak literasi di suatu wilayah.
  • Pengembangan Litrasi Sekolah
    • Menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan kepada guru dan kepala sekolah terkait penguatan literasi di kelas dan di sekolah.
    • Optimalisasi fungsi perpustakaan sebagai tempat rekreatif edukatif bagi warga sekolah.
  • Pengembangan Literasi Keluarga
    • Menyelenggarakan parenting literasi untuk orangtua murid di sekitar sekolah dan TBM mitra.
    • Memberikan keterampilan kepada orangtua dalam menyusun program literasi di lingkungan keluarga.
  • Penguatan Komunitas
    • Memberikan pelatihan peningkatan kapasitas penggerak komunitas literasi dalam mengelola komunitasnya.
    • Mendorong kolaborasi dan inisiatif lokal untuk menciptakan program literasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Program PELITA SLI Angkatan 5 diselenggarakan di 4 wilayah, yaitu;

  • Kota Bandung, Jawa Barat
  • Kabupaten Brebes, Jawa Tengah
  • Kabupaten Sleman, Yogyakarta
  • Kabupaten Pasuruan. Jawa Timur


  • Literasi Tematik
    Program literasi tematik adalah Program literasi fungsional yang dirancang sesuai dengan kebutuhan spesifik mitra atau kelompok sasaran. Program ini mengintegrasikan berbagai bentuk literasi—seperti literasi keuangan, literasi lingkungan, literasi digital, dan lainnya—ke dalam kegiatan pembelajaran atau pemberdayaan yang aplikatif, relevan, dan kontekstual. Program ini dapat diimplementasikan baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat umum. Pada tahun 2025, terdapat 3 aktivitas literasi tematik yang dilakukan, yaitu:
  • Literasi Ramadan, yaitu edukasi seputar Ramadan dan amalan Ramadan melalui penyediaan modul Kelas Literasi Kreatif (KLIK). Modul bisa diakses oleh publik dengan sistem donasi. 
  • Literasi Gizi, merupakan aktivitas multiliterasi yang dikemas melalui berbagai aktivitas kreatif, menyenangkan, dan bermakna guna meningkatkan pemahaman literasi gizi bagi keluarga. Aktivitas ini dilakukan di momen Hari Raya Idul Adha 1457 H. Aktivitasnya berupa edukasi ibadah kurban, edukasi gizi kepada keluarga, edukasi menu makanan sehat keluarga, edukasi pengelolaan limbah keluarga, serta berbagi daging kurban.
  • Literasi Keuangan, yaitu edukasi tentang pengelolaan keuangan melalui Kelas Literasi Kreatif (KLIK). Pada tahun 2025, KLIK Keuangan dilaksanakan dengan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada 250 guru Perkumpulan Amal Bakti di Kota Medan, bekerja sama dengan Astra Financial.
  • Literasi Lingkungan, yaitu edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan melalui Kelas Literasi Kreatif (KLIK). Pada tahun 2025, Literasi Lingkungan dilaksanakan di Kelurahan Kamal, Kec. Kalideres, Jakarta Barat, bekerja sama dengan Paragon. Aktivitas menyasar anak-anak dan orangtua di sekitar wilayah TBM Edelweis.

KOMED (Komunitas Media Pembelajaran)

KOMED akronim dari Komunitas Media Pembelajaran merupakan program semiformal sebagai wadah bagi guru untuk berinovasi dan berkarya dalam membuat ragam media pembelajaran. Dengan demikian, mereka dapat mendukung program literasi sekolah.

Selain menjadi wadah tukar pikiran dan berbagi inspirasi bagi para guru anggotanya, KOMED juga menjadi wadah penguatan kapasitas. Para anggota KOMED dapat mengikuti workshop juga forum berbagi pengetahuan secara daring maupun luring.

Beragam materi workshop telah disedia kan bagi para pengurus KOMED. Mulai dari kompetensi keguruan hingga keterampilan cipta media pembelajaran secara khusus, semuanya disajikan dalam aneka workshop. KOMED juga menyediakan materi pengem bangan diri dan materi khusus sesuai isu-isu terkini.

Para pengurus KOMED juga mendapatkan pelatihan bagaimana menjadi trainer, kemudian mereka diberdayakan untuk mengisi pelatihan tentang kreativitas media pembelajaran dan mengelola komunitas untuk menjaring keanggotaan KOMED. Mereka kemudian diberdayakan untuk mengisi pelatihan tentang kreativitas media pembelajaran dan mengelola komunitas untuk menjaring keanggotaan KOMED.

Tahun 2025 KOMED tersebar di 23 wilayah:

  1. Regional jabodetabekban: Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bantten.
  2. Regional Jawa & DIY: Bandung, Jawa Timur, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Kulon Progo.
  3. Regional Sumatra: Batu Bara, Asahan, Riau, Palembang.
  4. Regional NTB & Bali: Lombok Timur, Bima, Dompu, Bali, NTB.
  5. Regional Kalimantan & Sulawesi: Hulu Sungai Utara, Takalar, Gowa, Donggala, Makassar.

Prestasi PM

  • Salwa Amalia Kaysan – Ashoka Young Changemaker 2025
  • Nuria – Juara 1 Transformasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Provinsi Riau 2025
  • Ken Izzun Nadhifah Lazuardy – Lolos Beasiswa Pelatihan Program Pengembangan Profesional Pembelajaran Numerasi 2025 – Kemdikdasmen
  • Handoko – 50 besar Juara Inspiratif Lomba Konten Pembelajaran Digital Interaktif PAUD 2025 – Kemdikdasmen
  • Purwanto – Menghasilkan karya buku “Kiat Sukses Lolos Beasiswa Microcodential”- Kemdikdasmen.
Wilayah Program
0
Sekolah
0
Guru
0
Siswa
0
Taman Baca Masyarakat
0
Komunitas
0
Masyarakat
0

Rekam Jejak Manifestasi Tempaan Kepemimpinan

Pada 2023, sebanyak 32.545 orang menjadi penerima manfaaat Leadership Project BAKTI NUSA angkatan 12. Total penerima manfaat leadership project berbasis daring sebanyak 47.151 dengan total konten media sosial sebanyak 2.723.

Guna memasifkan pesan dan dampak leadership project bagi masyarakat luas, para penerima manfaat BAKTI NUSA 12  berkolaborasi dengan 263 mitra strategis di seluruh wilayah program.

orang
0

Mitra Kerjasama

BAKTI NUSA

Dana Tersalurkan

Rp. 200.000.000

Mitra Kampus

BAKTI NUSA

Galeri

Sekolah Litarasi Indonesia